Abdurrahman bin Auf lahir 10 tahun setelah tahun gajah.Berasal dari
Bani Zuhrah,ia berkerabat dengan Usman
bin Affan dan Sa’ad bin Waqqas.Setelah hijrah ke Madinah,ia dipersaudarakan
dengan Sa’ad bin Rabi.Ketika di janjikan harta oleh saudara barunya,ia malah
bertanya”Di manakah pasar?”Ia meminta saudara barunya itu membeli sepetak tanah
yang kurang berharga terletak di samping pasar.Kemudian tanah itu ia
tawar-tawarkan kepada khalayak.Siapa saja boleh berdagang di tanah itu secara cuma-cuma
,tanpa perlu membayar sewa.Hanya saja,apabila memperoleh keuntungan,ia
menghimbau agar diberikan bagi hasil seikhlasnya.Para pedagang menyambut
gembira tawaran tersebut.
Tak makan waktu yang lama,ia pun
keluar dari kemiskinan,bahkan menjadi sahabat nabi terkaya,yang kelak
mewarisakan harta senilai triliunan rupiah.Usahanya mencapai Mesir dan
Syiria.Alih-alih dinikmati sendiri,ia memanfaatkan keuntungan usahanya untuk
menyantuni keluarga,sesama,dan agama.Pernah ia menjual tanah seharga puluhan
ribu dinar,yang kemudian ia bagi-bagikan kepada Bani Zuhrah,istri
Nabi,orang-orang fakir dari kalangan muhajirrin dan anshar.Sementara itu
diriwayatkan pula oleh Al-Jarah bin Minhal,”wahai Ibnu Auf,engkau orang
kaya,dan engkau tidak akan masuk surga kecuali dengan
berdesak-desakkan.Pinjamkanlah harta engkau kepada Allah,maka Allah akan
membuka belenggu kaki engkau”(dicuplik dari kitab Sunan An-Nasai karya An-Nasai)tapi
hadits ini hanya mengingatkan Abdurrahman
bin Auf untuk selalu selalu bersedekah di jalan Allah.
Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani
Umayyah.Diriwayatkan oleh Imam Muslim,Aisyah pernah bertanya kepada nabi,”Abu
Bakar masuk,tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus.Akan tetapi,ketika
Usman masuk,engkau terus duduk dan membetulkan pakaian.Mengapa?”Nabi pun
menjawab,”apakah aku tidak segan terhadap orang yang malaikatpun segan
kepadanya.Ini menarik,kalau Umar ditakuti oleh setan,maka Usman disegani oleh
malaikat!.Saat perang tabuk ,Usman menyedekahkan
1000 ekor unta,70 ekor kuda,ditambah 1000 dirham,yang nilainya sama dengan
sepertiga biaya yang diperlukan untuk peristiwa tersebut.Pernah pula ia membeli
sumur dari kaum lain seharga 200.000 dirham yang kemudian sumur itu ia sedekahkan
untuk kepentingan khlayak.Suatu ketika,Madinah mengalami paceklik.maka
datanglah kafilah dagang Usman dari
negeri syam.Kafilah itu terdiri dari 1.000 ekor unta yang membawa bahan
makanan.ustman bertanya:”apa yang kalian inginkan?”.’engkau tahu apa yang kami
inginkan.juallah barang dagangan itu kepada kami’,jawab seorang pedagang
Usman bertanya,”berapa keuntungan yang aku dapat dari
kalian?”setelah berdiskusi panjang lebar.akhirnya,usman menerangkan”Allah memberiku keuntungan sepuluh
dirham.apakah kalian berani membriku lebih dari sepuluh dirham?”karena tak
ada yang menjawab maka usman kembali menerangkan,”kalau begitu ,saksikanlah
bahwa semua bahan makanan yang aku bawa ini aku sedekahkan kepada fakir miskin
dan penduduk Madinah yang
membutuhkan.ini aku lakukan karena allah semata”.


0 komentar:
Posting Komentar